Home / Artikel / Kegiatan ABI / Kisah Badut Indonesia Mengajak Anak Tersenyum Sampai Kapanpun

Kisah Badut Indonesia Mengajak Anak Tersenyum Sampai Kapanpun

by - Selasa, 10 Sep 2019 11:08 613 - Kegiatan ABI

bg-reg

Puluhan bocah berkerumun di bibir panggung yang ditata semeriah mungkin di hari Minggu yang panas Februari lalu. Raut muka mereka bercampur antara antusiasme dan kegelisahan; menanti kejutan apa yang akan ditampilkan di panggung. Sejurus kemudian sesosok dengan pulasan bedak putih tebal dan warna bibir merah menyala lengkap bersama kostum badut warna kuning mencolok, tergopoh-gopoh muncul di depan panggung.

 

Badut tersebut berjalan dengan canggung sebelum terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Seolah tak terjadi apa-apa, si badut dengan polosnya langsung bermain akrobat tiga bola dengan kedua tangannya. Gelak tawa para bocah menyeruak tanpa dikomando. Kebahagiaan memenuhi udara.

“Aku ingin bertemu dan foto dengan badut,” rengek Caca, bocah delapan tahun yang duduk di kursi roda. Sang ibu yang setia menemaninya sedari pagi tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya mengiyakan sambil menepuk-nepuk punggung Caca.

Caca mungkin tidak sendirian, teman-temannya juga memiliki keinginan yang sama. Beberapa dari mereka mungkin sama sekali belum pernah melihat badut secara langsung. Beberapa saat sebelum acara selesai, keinginan Caca terpenuhi. Dengan senyum manis menghiasi wajahnya, Caca akhirnya berfoto bersama badut.

Anak-anak tersebut adalah asuhan Yayasan Amarylis Kirana di Cikokol, Tangerang. Mereka adalah anak-anak yang telah divonis menderita penyakit kanker dan kelainan darah. Sejak 2015 Yayasan tersebut berjuang memberikan bantuan untuk anak-anak penderita kanker dan hemofilia dengan menyediakan rumah singgah agar mereka mudah mengakses fasilitas kesehatan. Saat ini ada 240 anak yang ada di bawah naungan yayasan tersebut.

Dengan niat menghibur anak-anak, yayasan tersebut sepakat mengundang badut dari, tepat di Hari Kanker Anak Internasional. Ada 12 badut dari komunitas Aku Badut Indonesia yang menghibur anak-anak kala itu. Para badut tersebut datang tanpa dibayar sepeser pun oleh pihak penyelenggara.

 

“Ibu saya dulu menderita kanker rahim,” kata Dedy Delon, pendiri komunitas Aku Badut Indonesia. “Saya tahu penderitaannya seperti apa. Makanya saya tergerak untuk menghibur mereka.”

Menjadi seorang badut bukanlah sebuah profesi idaman di Indonesia. Ia tidak dipandang sebagai mata pencaharian idaman dan hanya dianggap sebagai lelucon, persis seperti tingkah lakunya kala di panggung. Nyatanya Dedy membuktikan jadi badut bisa menjadi profesi yang mapan sekaligus membawa misi kemanusiaan: menebar senyum kepada anak-anak.

“Ketika bertemu anak-anak yang sakit, saya menganggap diri saya seperti dokter,” kata pria bernama asli Dedy Rahmanto ini. “Obat yang saya bawa adalah senyum. Mereka yang sakit tidak butuh mainan. Mereka hanya butuh tertawa.”

Dedy lahir 1968. Sejak masih kecil, Dedy sudah punya keinginan menjadi badut. Keinginan tersebut muncul secara alami setelah diajak oleh orang tuanya menonton sirkus di Ancol. Di sirkus tersebut, Dedy terpana oleh aksi seorang badut berbadan gempal dengan kostum motif polkadot yang piawai bermain akrobat. Aksi tersebut terus membayangi benaknya. Atas izin orang tuanya, Dedy yang kala itu baru berusia sembilan tahun lantas berlatih dan bergabung bersama sanggar akrobat besutan pesulap dan pemain akrobat legendaris Paidi alias Pak Tepong. Ia kerap berlatih di Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol.

“Ada perasaan yang enggak bisa saya jelaskan waktu itu, tapi begitu saya melihat badut untuk pertama kalinya, saya tahu saya ingin menjadi badut untuk hidup,” ujar Dedy yang saat ini memiliki lima orang anak dan seorang cucu.

 

Awalnya orang tua hanya menganggap kegemarannya menjadi badut hanya sekedar hobi. Ketika Dedy memutuskan terjun ke dunia hiburan sebagai badut, mereka menentang keras. Dedy tak patah arang. Ia telah berkomitmen menjadi badut. Selama duduk di bangku sekolah ia kerap meninggalkan kelas gara-gara ada job manggung. Dalam sebulan ia bisa dua minggu bolos. Anehnya ia tetap lulus dan melanjutkan ke sekolah tinggi pariwisata. Lulus kuliah ia bekerja sebagai koki di sebuah hotel elit di kawasan Jakarta Pusat. Hanya bertahan beberapa bulan, Dedy memutuskan hengkang dari pekerjaan tetapnya dan menjawab panggilan hati: menjadi badut.

“Profesi badut memang disepelekan, orang-orang di sekitar saya sempat menertawakan dan mencaci maki. Bahkan calon mertua saya dulu enggak setuju anaknya saya nikahi,” kenang Dedy.

Keputusan keluar dari pekerjaan tetap terbukti bukan hal mudah. Selama beberapa bulan Dedy luntang-lantung mencari pekerjaan. Acara ulang tahun yang menjadi ladang pencahariannya tidak mampu memberikan kepastian pemasukan. Dedy lantas punya akal, daripada menunggu event ulang tahun anak yang tak tentu datang, lebih baik dia memakai sistem jemput bola untuk mendapat panggilan.

 

Sumber Artikel: https://www.vice.com/id_id/article/evqv5w/kisah-badut-indonesia-mengajak-anak-tersenyum-sampai-kapanpun





0 Comment




Welcome to the community

Komunitas Aku Badut Indonesia atau biasa disingkat ABI. Dibentuk pada 28 Januari 2018.
  11
  09/09/2019

Top Member

-

2

NEWSLETTER